Merayakan Pangan Lokal Milik Semua Untuk Semua, Melalui Festival Pangan Lokal FEAST!
Kategori: Keamanan dan Mutu Pangan
Labuan Bajo, InfoMabar,- Walaupun memiliki potensi yang besar untuk ketahanan pangan, pangan lokal yang ramah lingkungan masih belum populer di kalangan masyarakat. Minimnya kesadaran mengenai pentingnya keragaman pangan serta sulitnya mengakses pasar kerap menjadi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis lokal yang berkelanjutan.
Wakil Bupati, dr. Yulianus Weng, saat meninjau salah satu booth di Festival Pangan Lokal. (Foto : Dok. Kominfo Newsroom)
Karena itu, FEAST! (Flores Empowerment for Agricultural Sustainability and Transformation) menyelenggarakan Festival Pangan Lokal di Taman Goa Batu Cermin, Kabupaten Manggarai Barat, Senin (04/05/2026). Festival ini juga mengundang komunitas petani di Flores untuk bertemu masyarakat umum, guna mendekatkan masyarakat dengan ragam pangan yang tumbuh di sekitar.
Acara ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, wisatawan yang sedang berada di Labuan Bajo, instansi pemerintah daerah di bidang pertanian, UMKM dari Manggarai Barat, hingga komunitas pangan lokal. Festival ini juga mengundang kelompok tani dampingan FEAST! dari lima desa di Manggarai Barat serta UMKM lokal tampil di booth Pasar Tani, memamerkan dan menawarkan produk yang mereka hasilkan langsung dari kebun dan dapur mereka.
Festival ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, dibaliknya ada pendampingan yang berjalan di desa-desa. Hingga hari ini, FEAST! tengah berjalan di 8 kabupaten di Flores sejak Januari 2025 dan dijadwalkan hingga Februari 2028. Dalam tiga tahun tersebut, program ini menargetkan pendampingan terhadap 1.000 petani dengan tahun pertama berfokus pada lima desa dampingan yang turut hadir di festival ini. “FEAST! fokus pada dua aspek penting: pertanian berkelanjutan dan kesehatan khususnya gizi keluarga petani di Flores”, ujar Ririn Leba, Project Manager FEAST! yang hadir secara langsung di festival ini. Ririn berharap kolaborasi yang terjadi dapat terus berkembang.
Sebagai salah satu wilayah pariwisata prioritas, Manggarai Barat menyimpan peluang besar yang belum sepenuhnya dikuasai oleh masyarakatnya sendiri.
“Tantangannya adalah jumlah wisatawan banyak, namun pemanfaatan potensi pangan sebagian besar tidak berasal dari petani lokal Manggarai Barat,” ujar dr. Yulianus Weng, Wakil Bupati Manggarai Barat. Beliau menambahkan bahwa produk pangan lokal memiliki potensi yang perlu mendapat tempat lebih besar dalam dinamika pariwisata di Manggarai Barat.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Bappeda Manggarai Barat, Peter A. Rasyid, memaparkan strategi dan kebijakan ketahanan pangan lokal di tingkat kabupaten. Beliau menyoroti garis besar strategi dan arah kebijakan daerah dalam menunjang keragaman dan potensi pangan lokal. Termasuk tantangan untuk memastikan akses distribusi pangan dari kebun, pasar, hingga ke masyarakat tetap terjangkau.
“Saat ini ada upaya menggandeng berbagai pihak untuk meningkatkan keragaman pangan di Manggarai Barat,” jelasnya.
Salah satu pegiat tani lokal. (Foto : Dok Panitia)
Salah satu pegiat komunitas tani lokal, Lab Tani Bajo, Sony melihat festival ini sebagai pertemuan yang menyingkat dua ujung rantai pangan lokal. “Karena kegiatan ini menghadirkan UMKM yang sudah settle, juga menghadirkan petani dampingan yang menghadirkan bahan dasarnya. Ini punya potensi untuk bertukar sumber daya secara langsung,”ujarnya.
Menurut Sony, kehadiran kedua pihak secara langsung ini sebagai kesempatan untuk mempertemukan bahan dasar dengan produk turunan secara langsung tanpa harus melalui banyak perantara.
Tak hanya menampilkan produknya, acara FEAST! juga menghadirkan beberapa mata acara yang memberi sorotan pada pangan lokal yang sudah tersisihkan, salah satunya melalui sesi demo masak “Icip Pangan Lokal”. Di kesempatan ini, Perwakilan Kelompok Prima Tani dari Desa Golo Bilas memimpin dan memperlihatkan pengolahan dua hidangan tradisional seperti songkol dan tapa kolo, pangan lokal di Flores.
Meskipun kedua makanan ini masih melekat sebagai makanan ikonik, songkol dan tapa kolo semakin jarang hadir dalam keseharian. Terutama di kalangan masyarakat umum. Melalui showcase pengolahan pangan ini, Desa Golo Bilas mencoba untuk memperkecil jarak ini dengan mengenalkan kembali dua olahan pangan tersebut.
Kolaborasi antara kelompok tani dan pelaku UMKM yang terlihat dalam festival ini bukan sekadar urusan jual dan beli, melainkan juga menjadi refleksi bagaimana pangan lokal bisa menjadi titik temu antara produksi, pasar, dan pengetahuan.
Harapannya, ruang semacam ini bisa terus terbuka bahkan berkembang, tidak hanya sebagai ajang promosi, namun juga sebagai bagian dari percakapan lebih panjang mengenai bagaimana pangan lokal Manggarai Barat dapat terus hidup dan berkelindan dalam keseharian.
Festival ini merupakan bagian dari komitmen FEAST!, kolaborasi Humanis, ASPPUK, dan KRKP dengan dukungan penuh dari DBS Foundation dalam mendampingi petani melalui praktik pertanian berkelanjutan sebagai upaya untuk meningkatkan gizi keluarga petani di Flores.***